Merasa Bersalah
Suatu saat menurut riwayat, Abdurrahman bin Umar yang sedang di Mesir tanpa dia sadari meminum sebuah minuman yang ternyata memabukkan, maka datanglah ia bersama temannya kepada pejabat setempat, yaitu Gubernur Mesir Amr bin Ash. Kata Abdurrahman “ Semalam kami terjerumus meminum minuman keras dan mabuk, maka kami mohon agar dihukum sesuai peraturan yang berlaku” (menurut Abdullah Ibn Umar, Abdurrahman mabuk tersebut karena sesungguhnya tidak tahu bahwa minuman yang diminumnya adalah minuman keras, disangkanya hanya minuman biasa).
Sang Gubernur yang sudah mengenal betul siapa Abdurrahman seperti tidak berkenan mendengar pengakuan dan permohonan tersebut, ia secara halus mengusir keduanya. Abdurrahman yang merasa tersiksa “dosa” yang tak sengaja diperbuatnya ngotot untuk dihukum sesuai aturan yang ada untuk membersihkan dosanya, dia mengancam, “Jika anda tidak mau menghukum, maka saya akan laporkan kepada Ayah saya setibanya di Ibu kota.” (Abdurrahman adalah putera Umar bin Khatab yang saat itu menjabat Khalifah dan dikenal sangat keras menerapkan hukum terhadap siapapun)
Amr bin Ash sebagai Gubernur merasa serba salah, jika dia tidak menghukum, dia harus bersiap menghadapi sanksi dari Khalifah, tetapi jika dia menghukum, apa kata orang nanti terhadapnya, karena tega menghukum putera khalifah yang telah mengangkatnya dan kesalahannyapun tanpa sengaja. Aturan hukuman terhadap pemabuk saat itu adalah dicambuk dan digunduli di depan umum. Akhirnya Amr Ibn Ash menemukan akal, kedua orang itu dieksekusinya diberanda rumah kediaman gubernur. Dan hal ini menurut gubernur tidak dilaporkan kepada atasannya.
Tapi entah bagaimana, berita ini akhirnya sampai juga kepada Amirul Mukminin di Ibu kota yang akhirnya membuat surat kepada gubernur yang isinya; “Bismillahirrahmaanirrahiim. Dari Umar Amirulmukminin untuk Amr bin Ash…. Aku heran terhadapmu, wahai Ibnu Al ‘Ash, dan terhadap keberanianmu melanggar aturanku. Aku pikir aku mesti memecatmu dengan tidak hormat. Kamu mencambuk dan mencukur kepala Abdurrahman di dalam rumuahmu. Kamu tahu, ini menyalahi peraturanku. Abdurrahman tak lain adalah seorang rakyatmu, yang seharusnya kamu perlakukan sebagaimana warga negara yang lain. Tetapi kamu malah berpendapat bahwa Abdurrahman adalah anak Amirulmukminin. Bukankah kamu sudah tahu bahwa bagiku tak ada sesuatu perlakuan istimewa untuk seorangpun dihadapan hak Allah yang harus dipertanggungjawabkannya. Maka, begitu kamu terima surat ini, segera kirim Abdurrahman dalam pakaian ‘aba-ahnya di atas pelana, agar dia tahu buruknya apa yang sudah diperbuatnya.”
Mematuhi perintah Amirulmukminin, akhirnya gubernur Amr Ibn Al’ash segera mengirim Abdurrahaman yang sesampainya di Ibu kota di hukum lagi.
Shahabat, kisah tersebut nyata ada, memang tidak terjadi saat ini, tetapi kejadian tersebut amat sering terjadi saat ini di satu fenomenanya, namun amat langka terjadi di fenomena lainnya. Saat ini amat seringnya kita melakukan kesalahan, tapi amat jarangnya kita merasa bersalah, bahkan kita mencari alasan-alasan atas terjadinya kesalahan, bahkan tidak jarang kita menimpakan kesalahan kepada orang lain. Sungguh akhlaq masyarakat kita yang tidak berani mengakui kesalahan sendiri akan menimbulkan kehancuran bagi masyarakat itu sendiri.
Abdurrahman merasa bersalah telah melakukan kesalahan yang sebenarnya dia lakukan tanpa sengaja. Amr Ibn Al’Ash, merasa bersalah bila melakukan aturan tetapi sekaligus merasa bersalah karena tidak menegakkan hukum sesuai aturan. Umar Bin Khatab merasa bersalah ketika bawahannya tidak menjalan hukum sesuai aturan. Sungguh sebuah fenomena yang sangat sulit kita jumpai saat ini.
Shahabat, fenomena-fenomena tersebut sebenarnya bukanlah tidak mungkin bisa kita laksanakan masa sekarang ini. Hal ini menjadi langka, karena manusia lebih menghargai saat ini dibanding saat nanti, manusia lebih mencari kebanggaan di depan manusia lainnya dibandingkan mencari keridhoan atas-Nya.
Shahabat, mari kita latih diri kita dan keluarga kita sejak dini, untuk lebih peka diri, sehingga kita cukup lapang untuk merasa bersalah atas kekurangan yang terjadi sebagai modal untuk perbaikan di kemudian hari. Selamat berjuang !